Banyak peserta menghitung peluangnya dengan merata-rata nilai psikologi, akademik, dan jasmani. Cara itu keliru: ketiganya punya bobot berbeda, dan bobotnya berubah antar-tahap sidang serta antar-jalur.
Bobot pada Sidang Akhir
Tahap inilah yang menentukan kelulusan. Perhatikan bahwa jasmani sama sekali tidak dihitung pada sidang menengah beberapa jalur, tapi selalu muncul di sidang akhir.
| Jalur | Psikologi | Akademik | Jasmani |
|---|---|---|---|
| AKPOL (Tingkat Panda) | 40% | 35% | 25% |
| Bintara Rekpro | 40% | 35% | 25% |
| Bintara PTU | 40% | 35% | 25% |
| Bakomsus | 35% | 45% | 20% |
| Tamtama | 35% | 25% | 40% |
Bobot pada Sidang Rikkes II
| Jalur | Psikologi | Akademik | Jasmani |
|---|---|---|---|
| AKPOL (Tingkat Panda) | 40% | 35% | 25% |
| Bintara Rekpro | 45% | 55% | — |
| Bintara PTU | 45% | 55% | — |
| Bakomsus | 45% | 55% | — |
| Tamtama | 40% | 60% | — |
Apa Artinya untuk Persiapan Anda
Angka-angka itu menjawab pertanyaan "saya harus latihan apa dulu?" dengan cukup tegas.
- Peserta Tamtama: jasmani menyumbang 40% di sidang akhir — porsi terbesar dari semua jalur. Latihan fisik bukan pelengkap.
- Peserta Bakomsus: akademik 45%, terbesar di antara semua jalur. Keterampilan dan pengetahuan bidangnya menentukan.
- Peserta AKPOL, Rekpro, dan PTU: psikologi 40% — komponen tunggal terbesar, dan justru yang paling sering dianggap "tidak bisa dilatih".
Kesimpulan praktisnya: dua peserta dengan total mentah sama bisa berbeda peringkat hanya karena distribusi nilainya. Memperbaiki komponen berbobot besar selalu lebih murah daripada mengejar sempurna di komponen berbobot kecil.
Halaman ini menjelaskan MEKANISME tes dan cara nilai dihitung. Persyaratan pendaftaran — batas usia, tinggi badan, kualifikasi pendidikan, kuota, dan jadwal — berubah tiap gelombang dan berbeda antar-jalur. Selalu pakai pengumuman resmi panitia sebagai acuan, bukan artikel mana pun.