TIUCPNSContoh Soal

Silogisme di TIU: Menarik Kesimpulan Tanpa Terjebak

Oleh Tim Redaksi Orang Dalam · 20 Agustus 2026 · diperbarui 28 Agustus 2026 · 2 menit baca

Soal penalaran logis banyak dijawab keliru karena peserta memakai pengetahuan umum, bukan premis yang diberikan. Ini cara membacanya dengan benar.

Silogisme di TIU: Menarik Kesimpulan Tanpa Terjebak

Soal silogisme memberi dua pernyataan yang dianggap benar, lalu meminta kesimpulan yang pasti mengikuti. Bentuknya sederhana, tapi tingkat kesalahannya tinggi — dan penyebabnya hampir selalu sama.

Aturan Pertama: Lupakan Apa yang Anda Tahu

Premis dalam soal silogisme dianggap benar tanpa syarat, meski bertentangan dengan kenyataan. Bila soal menyatakan "semua burung tidak bisa terbang", maka di dalam soal itu memang begitu, dan kesimpulannya harus disusun dari situ.

Kesalahan paling umum adalah menilai kesimpulan berdasarkan apakah ia masuk akal di dunia nyata, bukan apakah ia mengikuti dari premis. Penyusun soal tahu kecenderungan ini dan sering sengaja memakai premis yang janggal untuk mengujinya.

Kesimpulan Harus Pasti, Bukan Mungkin

Yang diminta adalah kesimpulan yang PASTI benar bila premisnya benar. Kesimpulan yang mungkin benar tetapi tidak harus benar adalah jawaban salah.

Dari "semua mahasiswa membawa laptop" dan "Budi membawa laptop", tidak bisa disimpulkan Budi mahasiswa. Premis pertama hanya mengatakan semua mahasiswa termasuk pembawa laptop — tidak mengatakan hanya mahasiswa yang membawanya. Ini pembalikan arah, dan merupakan jebakan yang paling sering dipasang.

Perhatikan Kata Kuncinya

Bentuk premisArtinyaYang TIDAK boleh disimpulkan
Semua A adalah BSetiap A pasti termasuk BSemua B adalah A
Sebagian A adalah BSetidaknya satu A adalah BSemua A adalah B
Tidak ada A yang BA dan B tidak beririsan sama sekali
Jika A maka BA cukup untuk memastikan BJika bukan A maka bukan B

Baris terakhir layak diperhatikan khusus. Dari "jika hujan maka jalanan basah", tidak bisa disimpulkan bahwa tanpa hujan jalanan kering — bisa saja basah karena sebab lain. Yang sah adalah kebalikan penuhnya: jika jalanan tidak basah, berarti tidak hujan.

Kata "Sebagian" Membatasi Kesimpulan

Bila salah satu premis memakai kata sebagian, kesimpulan yang memakai kata semua hampir selalu salah. Kesimpulan tidak boleh lebih kuat daripada premis yang paling lemah.

Dari "semua guru rajin" dan "sebagian guru berkacamata", yang bisa disimpulkan adalah sebagian orang berkacamata itu rajin — bukan semua orang berkacamata rajin.

Gambar Kalau Bingung

Untuk soal yang memuat tiga kelompok atau lebih, menggambar lingkaran yang saling bertumpuk di kertas buram jauh lebih cepat daripada menalar dalam kepala. Lingkaran yang tidak beririsan menunjukkan "tidak ada A yang B", lingkaran di dalam lingkaran menunjukkan "semua A adalah B".

Setelah gambarnya selesai, periksa tiap pilihan jawaban terhadap gambar itu. Pilihan yang bisa digambar dengan cara lain yang tetap sesuai premis berarti tidak pasti, dan karenanya salah.

Hati-hati dengan Premis yang Dibalik Urutannya

Sebagian soal sengaja menyusun premis dengan urutan yang tidak lazim, misalnya menempatkan kesimpulan sementara di awal atau menyisipkan keterangan yang tidak diperlukan.

Menyusun ulang premis ke bentuk bakunya sebelum menalar hampir selalu mempercepat pekerjaan. Tuliskan tiap premis sebagai satu kalimat pendek berbentuk "semua/sebagian/tidak ada A adalah B", lalu abaikan bagian kalimat yang tidak mengubah hubungan itu.

Keterangan tambahan seperti nama tempat, angka, atau waktu sering dimasukkan hanya untuk memperpanjang kalimat. Bila keterangan itu tidak muncul di pilihan jawaban, biasanya memang tidak berperan.

Ringkasnya

← Lihat artikel lainnya