Indeks Massa Tubuh (IMT) — atau BMI dalam bahasa Inggris — membandingkan berat badan terhadap tinggi badan. Kemenkes memakai lima kategori dengan batas yang sedikit berbeda dari standar WHO internasional.
Tabel Kategori IMT Kemenkes
| IMT | Kategori |
|---|---|
| di bawah 17,0 | Kurus tingkat berat |
| 17,0 – 18,4 | Kurus tingkat ringan |
| 18,5 – 25,0 | Normal |
| 25,1 – 27,0 | Gemuk tingkat ringan |
| di atas 27,0 | Gemuk (obesitas) |
Kenapa Batasnya Berbeda dari Standar Internasional
Standar WHO menetapkan normal pada 18,5–24,9 dan kelebihan berat mulai 25. Kemenkes memperlebar batas normal sampai 25,0 dan menambahkan kategori antara sebelum obesitas. Perbedaan ini mempertimbangkan komposisi tubuh populasi Indonesia.
Yang Tidak Diukur IMT
IMT hanya membagi berat dengan kuadrat tinggi. Ia tidak membedakan otot dari lemak, tidak memperhitungkan sebaran lemak, dan tidak melihat usia atau jenis kelamin.
- Atlet berotot bisa masuk kategori "gemuk" padahal lemak tubuhnya rendah.
- Orang bertubuh kurus dengan lemak perut tinggi bisa masuk "normal" padahal berisiko.
- Karena itu IMT dipakai sebagai penyaring awal, bukan diagnosis.
Halaman ini menjelaskan kategori IMT sebagai indikator kesehatan umum dan sebagai gambaran kesiapan seleksi. Ini bukan nasihat medis, dan bukan pengganti pemeriksaan kesehatan resmi panitia. Untuk kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan dengan dokter.